ORGANISASI ISLAM
MUHAMMADIYAH
“Untuk memenuhi tugas Pendidikan Agama Islam”

DISUSUN OLEH:
\ |
BOGOR
EDUCARE
2017
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan pertolongannya sehingga kami dapat membuat
makalah Pendidikan Agama Islam ini yang membahas tentang “Organisasi Islam di
Indonesia Muhammadiyah”.
Kami juga berterimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam menyusunkan makalah ini sehingga kami dapat
menyelesaikannya dengan baik.
Semoga makalah yang kami buat ini
bukan hanya bisa bermanfaat bagi kami namun juga bermanfaat bagi siapapun yang
membaca makalah ini , kami sadar dalam hal penulisan atau isi masih jauh dari
sempurna maka dari itu kritik dan saran sangat kami harapkan untuk lebih baik
di kesempatan lain
kami ucapkan terima kasih
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ................................................................................ i
DAFTAR
ISI .............................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Tujuan
Pembelajaran ...................................................................... 1
B. Materi
dalam Makalah Ini .............................................................. 1
BAB
II PEMBAHASAN
A. Latar
Belakang Organisasi Islam..................................................... 2
B. Pendiri
dan Tokoh Pendukung........................................................ 2
C. Ciri
Khas Gerakan .......................................................................... 3
D. Wilayah
Penyebaran........................................................................ 5
E. Kondisi
Saat Ini............................................................................... 8
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................... 9
B. Saran
Dan Pesan.............................................................................. 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Tujuan Pembelajaran
1. Mampu
menjelaskan latar belakang pembentukan Muhammadiyah
2. Mampu
mengetahui tokoh pendiri Muhamamdiyah serta tokoh pendukung
3. Mendeskripsikan
wilayah penyebaran organisasi Muhammadiyah.
4. Menjelaskan
kondisi saat ini organisasi Muhammadiyah
B. Materi Pembelajaran
1. Latar
Belakang Organisasi Islam
2. Pendiri
dan Tokoh Pendukung
3. Ciri
Khas Gerakan
4. Wilayah
Penyebaran
5. Kondisi
Saat Ini
BAB II
PEMBAHASAN
“ORGANISASI ISLAM MUHAMMADIYAH”
A. Latar Belakang Pembentukan
Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah sebuah organisasiIslam yang besar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari
nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah juga
dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.
Tujuan utama Muhammadiyah
adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah.
Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan
kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi.
1. Latar
Belakang Internal
a. Aspirasi
keagamaan KH. Ahmad Dahlan
KH. Ahmad Dahlan yang terinspirasi dari QS. Ali Imran :
104. Bahwa perlu “diadakan” suatu golongan yang menyeru kepada kebaikan dan
mencegah kemungkaran. Dan bentuk golongan tersebut adalah dengan ORGANISASI.

Pengertian Ma'ruf adalah segala perbuatan
yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan pengertian Munkar ialah segala
perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
b.
Keadaan Umat Islam
Umat
Islam saat itu (tahun 1900 an) berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Miskin, bodoh, terpinggirkan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam
untuk menghancurkan.
2. Latar
Belakang Eksternal
a. Praktek
ajaran Islam yang tercampur dengan ajaran lain.
Penyebaran ajaran agama Islam pada masa awal di nusantara
menggunakan system asimilasi yang tidak menimbulkan pertentangan dari
masyarakat nusantara yang masih beragama hindu, budha maupun kepercayaan.
Asimilasi yang dilakukan oleh wali songo sangat berhasil memasukkan Islam dalam
kehidupan masyarakat kala itu.
Namun ketika para wali sudah tiada, tarbiyah yang dilakukan
belum berhasil, ajaran Islam masih bercampur dengan ajaran yang lain, dan hal
itu terjadi sampai sekarang dan dianggap sebagai ajaran Islam. Sebagai contoh
adalah ritual Peringatan kematian 40 hari dan sebagainya. Hal inilah yang perlu
diluruskan oleh umat Islam.
b. Adanya
aktivitas misi Kristen (pemurtadan)
Penjajah Belanda dengan metodenya sendiri telah melakukan
misi Gospel, yaitu meng-injilkan daerah jajahannya termasuk Indonesia.
Kristenisasi dapat berjalan karena rakyat Indonesia yang mayoritas adalah umat
Islam dalam keadaan miskin, dan rendah dalam memahami agamanya.
B. Pendiri
dan Tokoh Pendukung Muhammadiyah
Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H.
Ahmad Dahlan di
Kampung Kauman Yogyakarta pada
tanggal 18
November 1912
(8 Dzulhijjah 1330 H). Berikut adalah daftar nama ketua umum organisasi
Muhammadiyah.
C. Ciri Khas Gerakan
Muhammadiyah
sebagai gerakan berwatak tadjid dan tajrid mengandung pengertian purifikasi dan
reformasi yaitu pembaruan dalam pemahaman dan pengalaman ajaran islam ke arah
keaslian dan kemurniannya sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah. Dalam
pengertian pertama ini diterapkan pada bidang aqidah dan ibadah mahdah
D. Wilayah
Penyebaran
Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM
kelahiran Kauman, nama ”Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan
sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang
Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu
Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui salat
istikharah (Darban, 2000: 34). Pada masa kepemimpinan Kyai Dahlan (1912-1923),
pengaruh Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti: Yogyakarta,
Surakarta, Pekalongan,
dan Pekajangan,
sekitar daerah Pekalongan sekarang. Selain Yogya, cabang-cabang Muhammadiyah
berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullahmembawa
Muhammadiyah ke Sumatera
Barat dengan
membuka cabang di Sungai Batang, Agam.
Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke
seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak
ke seluruhSumatera, Sulawesi,
dan Kalimantan.
Pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar keseluruh Indonesia.
E. Kondisi
Saat Ini
Tidak
ada catatan pasti jumlah massa organisasi Islam terbesar kedua ini. Akan tetapi
warga Muhammadiyah juga tersebar diseluruh willayah Indonesia dan menjadi
rebutan partai-partai politik.
Konon
jumlah warga Muhammadiyah mencapai 40 juta. Dalam situs Beritasatu.com
disebutkan warga Muhammadiyah berjumlah lebih dari 35 juta orang. Anggap saja jumlah warga Muhammadiyah
adalah 40 juta, maka presentasenya adalah 19,3 persen dari total jumlah umat
Islam di Indonesia.
Adapun
Muhammadiyah bergerak dan aktif di bidang:
1.
Bidang Pendidikan
Lahirnya pemikiran Muhammadiyah tampaknya
dilatarbelakangi oleh berbagai faktor yang berakar dari adanya rasa tidak puas
terhadap sistem pendidikan yang dualistis yaitu sistem pendidikan Barat yang
lebih mengembangkan aspek intelektual, atau sistem pendidikan yang bercorak
sekuler yang bersifat negatif terhadap agama dan membuat jarak sosial dengan
mayoritas kelompok sosial lainnya. Dalam waktu yang sama lembaga pendidikan
Islam tetap mempertahankan ciri pendidikannya yang khas, yang belum tersentuh
oleh arus kebudayaan Barat. Bahkan, pelajaran masih terpusat pada kitab-kitab
lama dengan metode yang belum banyak berubah sejak lembaga pendidikan itu
didirkan.[7] Misalnya saja, dalam dunia pesantren;
literatur kitab-kitab kuning menjadi perioritas utama, dan mengabaikan
kitab-kitab umum yang berasal dari Barat.
K. H. Ahmad Dahlan memandang bahwa kedua jenis
pendidikan yang demikian sangat tidak memuaskan sehingga ia tidak cenderung
pada salah satunya, tetapi mencoba untuk mengkompromikan segi-segi positif dan
kedua jenis pendidikan dan mengatasi kesenjangan sosial yang terjadi dalam
masyarakat. K. H. Ahmad Dahlan mencetuskan ide-ide dan pikiran-nya, di antara
pokok pikirannya adalah :
1. Memasukkan pelajaran agama ke dalam
lembaga pendidikan Barat dengan membangun sekolah swasta yang meniru sekolah
gubernemen dengan memberikan mata pelajaran agama di dalamnya. Dengan demikian,
pemikiran Muhammadiyah mempunyai andil yang nesar
dalam menjadikan pelajaran agama sebagai
mata pelajaran yang diakui di sekolah-sekolah pemerintah. Hingga saat ini, mata
pelajaran agama tercantum sebagai salah satu bidang studi di sekolah-sekolah
negeri dengan ketetapan MPRS No. XXVII/MPRS/1966 psl 2 dan 3, serta keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 008.C/U/1975 yang menetapkan sembilan
bidang studi yang wajib diikuti oleh murid-murid yang beragama Islam.[8]
2. Penetapan sistem pendidikan Barat
dalam lembaga pendidikan agama.
K. H. Ahmad dahlan berusaha untuk
mengkompromikan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan yang datang dari
Barat yang bertujuan untuk menciptakan sistem pendidikan yang melahirkan
manusia yang memiliki kedua jenis pengetahuan tersebut. Adapun bahan pelajaran
yang dimasukkan ke dalam bidang agama adalah :
a. Kitab-kitab Fikih dan Mazhab
Syafii
b. Ilmu Tasawuf karangan al-Gazali
c. Ilmu Kalam dan kitab Risalat al-Tauhid oleh Muhammad Abduh
Pengetahuan umum yang diajarkan meliputi :
a. Ilmu Sejarah
b. Ilmu Hitung
c. Menggambar
d. Bahasa Melayu
e. Bahasa Belanda
f. Bahasa Inggris
Dengan
gerakan pendidikan yang demikian, Muhammadiyah telah membawa pembahruan dalam
bidang pendidikan, baik dengan memasukkan mata pelajaran agama di
sekolah-sekolah umum dengan menyerap ilmu-ilmu yang datang dari Barat dan
Muhammadiyah tidak bersifat apriori terhadap Barat. Usaha pendidikan Muhammadiyah teruis berkembang dewasa
ini, Muhammadiyah sudah mendirikan lembaga pendidikan mulai dari TK sampai PT.
Keberhasilan
dalam bidang pendidikan memang sangat jelas. Sampai saat ini, Muhammadiyah
memiliki 84 Perguruan Tinggi di seluruh
Indonesia
dan yang sangat menonjol dan berkualitas adalah Universitas Muhammadiyah Malang
(UMM) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Keberhasilan dari
pendidikan ini melahirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang menjadi pemimpin adalah
seperti Prof. DR. Amin Rais, dan Prof. Drs. H. Abd. Malik Fdjar, M.Sc dan
tokoh-tokoh yang lainnya.
Tujuan
pembaharuan pendidikan yang dilakukan Muhammadiyah adalah mencerdaskan bangsa,
terutama Islam, agar mampu berpikir rasional meninggalkan kebekuan akal dan taklid
buta yang amat merugikan, tetapi tetap berdasarkan kaidah agama Islam.
2. Bidang Dakwah
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah berupaya meng-ubah
pikiran, perasaan dan tingkah laku manusia menjadi islami sehingga terbentuk
tatanan masyarakat Islam.
Salah satu kebijaksanaan Muhammadiyah yang perlu
dicatat ialah, bahwa di samping dakwah dengan lisan dibarengi dengan dakwa bi al-hal. Ia mendirikan panti-panti anak yatim,
bantuan-bantuan kesehatan, klinik-klinik, rumah bersalin sehingga umat dapat
merasakan faedah kehadiran Muhammadiyah.[9] Kedua media dakwah tersebut, yakni bi al-lisan dan bi al-hal, tinggal meningkatkan dan
menyesuaikan dengan perkembangan modernisasi dan teknologi.
Muhammadiyah dengan gerakan dakwahnya sangat
bermanfaat bagi umat Islam, baik yang berada di desa-desa maupun di kota-kota,
Muhammadiyah telah menyumbangkan peran aktifnya melalui gerakan penuda seperti
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) meng-adakan dakwah atau tabligh di berbagai
masjid, baik berupa pengkaderan maupun pengajian-pengajian keislaman.
3. Bidang Ekonomi
Visi dan pandangan hidup keagamaan warga Muhammadiyah
perlu juga mempertajam kepekaannya dalam wilayah enterprineurship
(kewiraswastaan).
Gerakan sosial keagamaan yang berjalan tanpa dibarengi
dan diperkokoh oleh basis kekuatan ekonomi akan pincang. Jika dahulu
basis-basis kekuatan ekonomi terpusat kepada industri kecil, sekarang beralih
ke wilayah pengelolaan lembaga pendidikan. Hanya saja ,pengelolaan lembaga
pendidikan sebagai sumber ekonomi belum dapat dikelola secara
profesional.
4. Akidah dan Ibadah
Pandangan Muhammadiyah dalam masalah akidah antara lain
adalah tahyul dan khurafatmerupakan penyebab
utama keterbelakangan umat. Karena itu, keyakinan umat terhadaptahyul dan khurafat harus dikikis habis-habisan,
sehingga mereka memperpegangi dan memiliki akidah yang kuat, serta membuat diri
mereka lebih maju.
Dalam masalah ibadah, yang menjadi tujuan
utama Muhammadiyah dalam
bidang usahanya adalah memberantas bid’ah. Menurut Muhammadiyah, bid’ah
merupakan kesesatan yang tidak pernah dipraktekkan oleh Nabi saw.
Dengan demikian, agenda pembaharuan pemikiran
keagamaan Muhammadiyah yang pluralis sosial keagamaan, tetap saja aktual dan
sinkron dengan pembangunan bangsa
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Muhammadiyah berarti pengikut Muhammad yang mengandung
pengertian sebagai sekelompok orang yang berusaha atau pelanjut dakwah
rasul dalam mengembangkan tata kehidupan masyarakat. Dengan demikian,
Muhammadiyah dimaksudkan sebagai organisasi yang gerak perjuangannya ditujukan : [1] untuk mengembankan
suatu tata kehidupan masyarakat sebagaimana dikehendaki Islam,[2] yang
bertujuan untuk menyebarkan agama Islam, baik melalui pendidikan maupun gerakan
sosial.[3] Dengan
demikian, tercipta masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
B.
Saran
Dan Pesan
Makalah
ini sangat membutuhkan kritik dan saran anda, supaya makalah ini bisa menjadi
lebih baik lagi. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Zuhairini, dkk, Sejarah Pendidikan
Islam, Jakarta : Bumi Aksara Bekerjasama dengan Depag RI, 1997.
PP. Muhammadiyah, Profil Muhammadiyah 2005, Yogyakarta, 2005
PP. Muhammadiyah, Laporan Majelis-Majelis Pada Muktamar 2005
PP. Muhammadiyah, Laporan Organisasi Otonom Pada Muktamar 2005
PP. Muhammadiyah, Anggaran Dasar Muhammadiyah Yogyakarta, 2005
PP. Muhammadiyah, Suara Muhammadiyah, No. 5 TH. Ke-92/1-15 Maret 2007.
PP. Muhammadiyah, Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-45, Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, 1995
PP. Muhammadiyah, Profil Muhammadiyah 2005, Yogyakarta, 2005
PP. Muhammadiyah, Laporan Majelis-Majelis Pada Muktamar 2005
PP. Muhammadiyah, Laporan Organisasi Otonom Pada Muktamar 2005
PP. Muhammadiyah, Anggaran Dasar Muhammadiyah Yogyakarta, 2005
PP. Muhammadiyah, Suara Muhammadiyah, No. 5 TH. Ke-92/1-15 Maret 2007.
PP. Muhammadiyah, Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-45, Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, 1995
Tidak ada komentar :
Posting Komentar